terkapar dalam sunyi, tersungkur dalam duka
pekat cerahkan hati, hitam warnai suka
tak ada bahagia, hanya sendu memekakan telinga
terikat dalam bougenvile yang memekar berbunga
sudahlah, cukup lelah akan semua peristiwa
fenomena tak henti membuat menangis dalam tawa
saatnya menyerah dalam takdir, diri berserah
diam dan nikmati, mencoba tabah dan pasrah
*G
Jakarta, 20 November 2011
Minggu, 20 November 2011
Selasa, 17 Agustus 2010
Ratapan Sang Setan
aku lah penghilang suka mu
aku lah kebencianmu
aku lah pengendali amarahmu
peledakmu. egomu. nafsumu
kau tak bisa menghindar
ketika aku hadir di sekitar
aku merasuki kalbumu
tak ada yang memisahkan aku dari dirimu
semua sudah musnah ketika kau mengikuti bisikanku
teruslah terjatuh, dan terhenyak di dalam kenistaan
jangan pernah bangkit dan merasakan kebaikan
karena, fisikmu hidup tapi jiwamu aku habisi
aku ada untukmu, dan kau ada untuk tipuanku
muslihatku adalah jalan panjang untukmu
bisikanku adalah kata hatimu
nistaku adalah kehidupanmu
perkataanku adalah pedomanmu
aku adalah sifatmu
jangan pernah kau pergi dariku
ketika kau pergi, kau tak lagi merasakan nikmat
nikmatku nikmat dunia
kau tak perlu memikirkan masa depan
masa depanmu adalah abstrak
bisa kau rakit sesuai keinginanku
lalu sesalilah semua, tapi jangan perbaiki
mari kita bangun semua keburukan dari semua kebaikan
hancurkan kebaikan untuk keburukan yang abadi
kita adalah teman, kita adalah kawan
Jakarta, 16 Agustus 2010
*G
Kamis, 21 Januari 2010
Cinta Hampa
sungai mengalir dari hulu ke hilir
air menyusur dan menabrak batu di pinggir
getir. perih. tak ayal mencuat naik ke darat
mengintip salur terhalang sekat
hei kau para pemuja seorang raja
wujudmu menyerupai bintang kejora
bersorak. berteriak. coba hentikan waktu
agar kenangan lalu tak hilang dimakan waktu
pedih hati terasa layak teriris
cinta yang tak tergubris, tipis pun tak ada
cinta layaknya bangkai yang telah terkikis
dimakan belatung. semut. cacing. sampai habis
hei kau para pengejar cinta
apalah lagi arti sebuah strata
ketika rasa tercipta diantara kita
aku dan kamu. sama saja
air menyusur dan menabrak batu di pinggir
getir. perih. tak ayal mencuat naik ke darat
mengintip salur terhalang sekat
hei kau para pemuja seorang raja
wujudmu menyerupai bintang kejora
bersorak. berteriak. coba hentikan waktu
agar kenangan lalu tak hilang dimakan waktu
pedih hati terasa layak teriris
cinta yang tak tergubris, tipis pun tak ada
cinta layaknya bangkai yang telah terkikis
dimakan belatung. semut. cacing. sampai habis
hei kau para pengejar cinta
apalah lagi arti sebuah strata
ketika rasa tercipta diantara kita
aku dan kamu. sama saja
| How About My Post ? |
Jumat, 04 September 2009
"Isi Hati Seorang Atheis"
seorang atheis yang hidup seorang diri
di dunia yang makin kejam
tak ada teman, tak punya Tuhan
kebingungan, tak tahu harus berbuat apa
serba salah
seorang atheis yang hidup sendiri
di dalam kepalanya
banyak sekali pertanyaan yang berkelebat
"Siapakah Aku ?
Untuk apakah Aku hidup ?
Kemanakah Aku ketika mati ?
Apa yang terjadi ketika Aku Mati ?"
tapi semua nihil
tak dapat jawaban, hanya angin menderu
seorang atheis yang hidup penuh dengan logika
mulai berteriak frustasi
"Hey semua, mengapa aku tak tahu siapakah aku ?
mengapa aku tak tahu kenapakah aku ada ?
siapakah yang menciptakan aku ?
siapakah dalang dari semua ini ?"
selaksa pertanyaan lagi merasuki pikirannya
untuk ke sekian kali ia tak dapat menjawabnya
"Mengapa aku tak tahu ?
Aku mengerti segala teori rotasi jagad raya
Aku mengerti segala teori perubahan alam
tapi mengapa Aku tak tahu untuk apa aku hidup ?
mengapa ? mengapa ? mengapa ?"
seorang atheis yang mulai frustasi
berharap menemukan jawaban dari pertanyaannya
berharap bertemu seseorang yang fasih
yang mengerti akan kegundahannya
yang mengerti akan kerisauannya
yang mengerti akan kebimbangannya
yang dapat menjawab semua pertanyaannya
maka tibalah Hidayah-Nya kepadanya
bagaikan turunnya hujan ditengah gurun pasir
menyejukkan hati dan mulai menjawab semuanya
bagaikan cahaya bulan ditengah gelapnya malam
menyinari setitik kegelapan dengan pelita yang hangat
bagaikan hembusan nafas seorang ibu kepada putranya
menemani dikala malam larut.
dikala angin kencang.
dikala roda kehidupan berputar.
dikala mendapatkan derita.
dikala mendapatkan nikmat.
seorang atheis yang mualaf
bersyukur tidak terjerumus selamanya didalam gua
tidak terkurung selamanya dalam penjara
tidak terhadang dengan silangan bambu
sekarang
seorang atheis yang frustasi tak ada lagi
hanyalah mualaf yang bersyukur akan arti hidup ini
Jakarta, 27 Agustus 2009
*G
di dunia yang makin kejam
tak ada teman, tak punya Tuhan
kebingungan, tak tahu harus berbuat apa
serba salah
seorang atheis yang hidup sendiri
di dalam kepalanya
banyak sekali pertanyaan yang berkelebat
"Siapakah Aku ?
Untuk apakah Aku hidup ?
Kemanakah Aku ketika mati ?
Apa yang terjadi ketika Aku Mati ?"
tapi semua nihil
tak dapat jawaban, hanya angin menderu
seorang atheis yang hidup penuh dengan logika
mulai berteriak frustasi
"Hey semua, mengapa aku tak tahu siapakah aku ?
mengapa aku tak tahu kenapakah aku ada ?
siapakah yang menciptakan aku ?
siapakah dalang dari semua ini ?"
selaksa pertanyaan lagi merasuki pikirannya
untuk ke sekian kali ia tak dapat menjawabnya
"Mengapa aku tak tahu ?
Aku mengerti segala teori rotasi jagad raya
Aku mengerti segala teori perubahan alam
tapi mengapa Aku tak tahu untuk apa aku hidup ?
mengapa ? mengapa ? mengapa ?"
seorang atheis yang mulai frustasi
berharap menemukan jawaban dari pertanyaannya
berharap bertemu seseorang yang fasih
yang mengerti akan kegundahannya
yang mengerti akan kerisauannya
yang mengerti akan kebimbangannya
yang dapat menjawab semua pertanyaannya
maka tibalah Hidayah-Nya kepadanya
bagaikan turunnya hujan ditengah gurun pasir
menyejukkan hati dan mulai menjawab semuanya
bagaikan cahaya bulan ditengah gelapnya malam
menyinari setitik kegelapan dengan pelita yang hangat
bagaikan hembusan nafas seorang ibu kepada putranya
menemani dikala malam larut.
dikala angin kencang.
dikala roda kehidupan berputar.
dikala mendapatkan derita.
dikala mendapatkan nikmat.
seorang atheis yang mualaf
bersyukur tidak terjerumus selamanya didalam gua
tidak terkurung selamanya dalam penjara
tidak terhadang dengan silangan bambu
sekarang
seorang atheis yang frustasi tak ada lagi
hanyalah mualaf yang bersyukur akan arti hidup ini
Jakarta, 27 Agustus 2009
*G
Kamis, 27 Agustus 2009
"Inilah Aku"
aku adalah aku
inilah aku yang telah kau kenal
inilah aku yang telah kau temui
inilah aku apa adanya yang telah menyakitimu
aku adalah aku
beginilah sifatku
keras, egois, menyebalkan
aku tak butuh kau mengerti, aku hanya ingin kau tau
inilah aku apa adanya yang telah menghancurkanmu
aku bukanlah manusia yang sempurna
aku juga bukan seseorang yang patut kau puja
aku bukan aksara yang kau inginkan
aku hanya sesuatu yang diam. dingin. menghancurkan.
aku bukan Tuhan yang telah menciptakan segalanya
aku tak mengerti ilmu matematika
aku tak suka ilmu fisika yang pasti
aku hanya menganalisis apa yang terjadi
tapi, aku tak tau apa yang akan kamu telan
aku bukan dukun. paranormal.
yang tau akan kejadian setelah ini
aku akan berbicara lantang
jika aku benar dan menurutku yang kau lakukan salah
namun, aku akan diam membisu
jika aku salah dan kau telah melakukan yang benar
inilah hidupku
berjalan diatas roda yang telah berputar sesuai laju
yang telah diatur untuk hancur ditelan bumi
yang harus berjalan meski roda keras menghantam kerikil
dan yang harus bersyukur ketika berjalan di aspal yang mulus
aku terus mengalir
layaknya air mengaliri sungai dari hilir
yang selalu melewati batu untuk mengikisnya
tapi, pada akhirnya
aku akan berhasil melewatinya
dan menuju laut lepas yang tak terbatas
jakarta, 22 Agustus 2009
*G
inilah aku yang telah kau kenal
inilah aku yang telah kau temui
inilah aku apa adanya yang telah menyakitimu
aku adalah aku
beginilah sifatku
keras, egois, menyebalkan
aku tak butuh kau mengerti, aku hanya ingin kau tau
inilah aku apa adanya yang telah menghancurkanmu
aku bukanlah manusia yang sempurna
aku juga bukan seseorang yang patut kau puja
aku bukan aksara yang kau inginkan
aku hanya sesuatu yang diam. dingin. menghancurkan.
aku bukan Tuhan yang telah menciptakan segalanya
aku tak mengerti ilmu matematika
aku tak suka ilmu fisika yang pasti
aku hanya menganalisis apa yang terjadi
tapi, aku tak tau apa yang akan kamu telan
aku bukan dukun. paranormal.
yang tau akan kejadian setelah ini
aku akan berbicara lantang
jika aku benar dan menurutku yang kau lakukan salah
namun, aku akan diam membisu
jika aku salah dan kau telah melakukan yang benar
inilah hidupku
berjalan diatas roda yang telah berputar sesuai laju
yang telah diatur untuk hancur ditelan bumi
yang harus berjalan meski roda keras menghantam kerikil
dan yang harus bersyukur ketika berjalan di aspal yang mulus
aku terus mengalir
layaknya air mengaliri sungai dari hilir
yang selalu melewati batu untuk mengikisnya
tapi, pada akhirnya
aku akan berhasil melewatinya
dan menuju laut lepas yang tak terbatas
jakarta, 22 Agustus 2009
*G
| How About My Post ? |
Selasa, 25 Agustus 2009
"Keteguhan Lelaki"
lampu - lampu di pinggir jalan redup tak menerangi
seorang lelaki terdiam dan termenung di bawahnya
membayangkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya
kepada kekasih hati, kepada cinta yang telah di damba
kuda besi berlarian, macan-macan impor saling membalap
siluet cahaya dari mata mereka menerangi gelapnya jalanan
egoistis para penunggang macan dan kuda besi saling mendahului
tak mengerti akan kebimbangan sang lelaki
para sesepuh dan orangtua saling mendesak akan egonya
menunjuk calon mempelai layaknya zaman siti nurbaya
padahal sang lelaki tak tertarik akan wanita yang ditunjuk
tetap mencintai kekasih dambaan hatinya
tak terasa, air mata mengaliri pipinya yang kusam
isak tangis yang tak terbendung meledak dengan buas
keretakan hati yang tak dapat di tambal meski dengan lem bermerek internasional
bimbang, takut akan jalan yang akan di pilih
hai lelaki, tunjukkan pada mereka bahwa kau seorang pria
yang dapat memilih dan menjalani semua yang kau mau
berfikir dengan logika yang kau resapi
berjalan dengan naluri yang kau inginkan
berbicara dengan hati yang telah kau jaga
bersandar dengan apa yang telah kau pedomankan
lampu - lampu di pinggir jalan semakin redup dan semakin gelap
lelaki itu masih terdiam tak bergeming di bawahnya
tetapi, sekarang dia memikirkan untuk berusaha berontak
berontak dari jeruji besi yang telah mengurungnya
dengan cara halus, tak bersuara
tak berbekas. tak menimbulkan sakit
kuda besi dan macan impor sudah sepi
malam telah larut, siluet cahaya tak lagi dapat menerangi jalan
sang lelaki segera bergegas bersiap untuk mengungkapkan semua
kepada sesepuh, orangtua serta kepada kekasih dambaan hati
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
seorang lelaki terdiam dan termenung di bawahnya
membayangkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya
kepada kekasih hati, kepada cinta yang telah di damba
kuda besi berlarian, macan-macan impor saling membalap
siluet cahaya dari mata mereka menerangi gelapnya jalanan
egoistis para penunggang macan dan kuda besi saling mendahului
tak mengerti akan kebimbangan sang lelaki
para sesepuh dan orangtua saling mendesak akan egonya
menunjuk calon mempelai layaknya zaman siti nurbaya
padahal sang lelaki tak tertarik akan wanita yang ditunjuk
tetap mencintai kekasih dambaan hatinya
tak terasa, air mata mengaliri pipinya yang kusam
isak tangis yang tak terbendung meledak dengan buas
keretakan hati yang tak dapat di tambal meski dengan lem bermerek internasional
bimbang, takut akan jalan yang akan di pilih
hai lelaki, tunjukkan pada mereka bahwa kau seorang pria
yang dapat memilih dan menjalani semua yang kau mau
berfikir dengan logika yang kau resapi
berjalan dengan naluri yang kau inginkan
berbicara dengan hati yang telah kau jaga
bersandar dengan apa yang telah kau pedomankan
lampu - lampu di pinggir jalan semakin redup dan semakin gelap
lelaki itu masih terdiam tak bergeming di bawahnya
tetapi, sekarang dia memikirkan untuk berusaha berontak
berontak dari jeruji besi yang telah mengurungnya
dengan cara halus, tak bersuara
tak berbekas. tak menimbulkan sakit
kuda besi dan macan impor sudah sepi
malam telah larut, siluet cahaya tak lagi dapat menerangi jalan
sang lelaki segera bergegas bersiap untuk mengungkapkan semua
kepada sesepuh, orangtua serta kepada kekasih dambaan hati
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
| How About My Post ? |
"Ketika Manusia Berpikir"
tatkala semua telah habis
tatkala semua telah menghilang tanpa jejak
tatkala semua telah hancur lebur
tatkala semua telah ditarik kembali kepada-NYA
tatkala kita hanyalah aktor yang bermain sandiwara
tatkala tak ada lagi manusia yang sadar
tatkala tak ada lagi burung-burung yang berterbangan
tatkala tak ada lagi matahari yang senantiasa menyinari
tatkala tak ada lagi bulan yang menerangi malam hari
tatkala kamu mengerti akan kehendak-NYA yang tak dapat di ganggu gugat
tatkala mulut tak bisa bersuara
tatkala lidah tak mengecap rasa
tatkala kulit tak merasakan panas dingin
tatkala mata tak dapat melihat warna kelabu dunia
tatkala kamu sadar dan membayangkan pasti akan pergi meninggalkan semua
tatkala harga-harga diri tak lagi berarti
tatkala popularitas tak lagi bernilai
tatkala semua harapan telah tenggelam
tatkala bumi tak lagi berotasi
tatkala kamu berharap dan bertanya, siapakah Tuhanku ?
tatkala bintang tak lagi menari melainkan berak di atasmu
tatkala awan-awan tak lagi menaungi melainkan kencing di atasmu
tatkala tata surya tak lagi di orbitnya melainkan mencoba mengejarmu
tatkala seluruh jagad raya tak lagi bersatu melainkan meludahi mu
tatkala kamu bisa mengakui bahwa semua hanyalah ilusi yang fana
tatkala kamu hanya dapat berandai
tatkala kamu tak dapat lagi berusaha
tatkala kamu hanya dapat ber-angan
tatkala kamu tak dapat lagi merasakan indahnya mencapai tujuan
tatkala kamu hilang. dan Enyah dari hadapanku
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
tatkala semua telah menghilang tanpa jejak
tatkala semua telah hancur lebur
tatkala semua telah ditarik kembali kepada-NYA
tatkala kita hanyalah aktor yang bermain sandiwara
tatkala tak ada lagi manusia yang sadar
tatkala tak ada lagi burung-burung yang berterbangan
tatkala tak ada lagi matahari yang senantiasa menyinari
tatkala tak ada lagi bulan yang menerangi malam hari
tatkala kamu mengerti akan kehendak-NYA yang tak dapat di ganggu gugat
tatkala mulut tak bisa bersuara
tatkala lidah tak mengecap rasa
tatkala kulit tak merasakan panas dingin
tatkala mata tak dapat melihat warna kelabu dunia
tatkala kamu sadar dan membayangkan pasti akan pergi meninggalkan semua
tatkala harga-harga diri tak lagi berarti
tatkala popularitas tak lagi bernilai
tatkala semua harapan telah tenggelam
tatkala bumi tak lagi berotasi
tatkala kamu berharap dan bertanya, siapakah Tuhanku ?
tatkala bintang tak lagi menari melainkan berak di atasmu
tatkala awan-awan tak lagi menaungi melainkan kencing di atasmu
tatkala tata surya tak lagi di orbitnya melainkan mencoba mengejarmu
tatkala seluruh jagad raya tak lagi bersatu melainkan meludahi mu
tatkala kamu bisa mengakui bahwa semua hanyalah ilusi yang fana
tatkala kamu hanya dapat berandai
tatkala kamu tak dapat lagi berusaha
tatkala kamu hanya dapat ber-angan
tatkala kamu tak dapat lagi merasakan indahnya mencapai tujuan
tatkala kamu hilang. dan Enyah dari hadapanku
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
| How About My Post ? |
Langgan:
Entri (Atom)
