Jumat, 04 September 2009

"Isi Hati Seorang Atheis"

seorang atheis yang hidup seorang diri
di dunia yang makin kejam
tak ada teman, tak punya Tuhan
kebingungan, tak tahu harus berbuat apa
serba salah

seorang atheis yang hidup sendiri
di dalam kepalanya
banyak sekali pertanyaan yang berkelebat
"Siapakah Aku ?
Untuk apakah Aku hidup ?
Kemanakah Aku ketika mati ?
Apa yang terjadi ketika Aku Mati ?"
tapi semua nihil
tak dapat jawaban, hanya angin menderu

seorang atheis yang hidup penuh dengan logika
mulai berteriak frustasi
"Hey semua, mengapa aku tak tahu siapakah aku ?
mengapa aku tak tahu kenapakah aku ada ?
siapakah yang menciptakan aku ?
siapakah dalang dari semua ini ?"

selaksa pertanyaan lagi merasuki pikirannya
untuk ke sekian kali ia tak dapat menjawabnya
"Mengapa aku tak tahu ?
Aku mengerti segala teori rotasi jagad raya
Aku mengerti segala teori perubahan alam
tapi mengapa Aku tak tahu untuk apa aku hidup ?
mengapa ? mengapa ? mengapa ?"

seorang atheis yang mulai frustasi
berharap menemukan jawaban dari pertanyaannya
berharap bertemu seseorang yang fasih
yang mengerti akan kegundahannya
yang mengerti akan kerisauannya
yang mengerti akan kebimbangannya
yang dapat menjawab semua pertanyaannya

maka tibalah Hidayah-Nya kepadanya
bagaikan turunnya hujan ditengah gurun pasir
menyejukkan hati dan mulai menjawab semuanya
bagaikan cahaya bulan ditengah gelapnya malam
menyinari setitik kegelapan dengan pelita yang hangat
bagaikan hembusan nafas seorang ibu kepada putranya
menemani dikala malam larut.
dikala angin kencang.
dikala roda kehidupan berputar.
dikala mendapatkan derita.
dikala mendapatkan nikmat.

seorang atheis yang mualaf
bersyukur tidak terjerumus selamanya didalam gua
tidak terkurung selamanya dalam penjara
tidak terhadang dengan silangan bambu

sekarang
seorang atheis yang frustasi tak ada lagi
hanyalah mualaf yang bersyukur akan arti hidup ini

Jakarta, 27 Agustus 2009
*G

Kamis, 27 Agustus 2009

"Inilah Aku"

aku adalah aku
inilah aku yang telah kau kenal
inilah aku yang telah kau temui
inilah aku apa adanya yang telah menyakitimu

aku adalah aku
beginilah sifatku
keras, egois, menyebalkan
aku tak butuh kau mengerti, aku hanya ingin kau tau
inilah aku apa adanya yang telah menghancurkanmu

aku bukanlah manusia yang sempurna
aku juga bukan seseorang yang patut kau puja
aku bukan aksara yang kau inginkan
aku hanya sesuatu yang diam. dingin. menghancurkan.
aku bukan Tuhan yang telah menciptakan segalanya

aku tak mengerti ilmu matematika
aku tak suka ilmu fisika yang pasti
aku hanya menganalisis apa yang terjadi
tapi, aku tak tau apa yang akan kamu telan
aku bukan dukun. paranormal.
yang tau akan kejadian setelah ini

aku akan berbicara lantang
jika aku benar dan menurutku yang kau lakukan salah
namun, aku akan diam membisu
jika aku salah dan kau telah melakukan yang benar

inilah hidupku
berjalan diatas roda yang telah berputar sesuai laju
yang telah diatur untuk hancur ditelan bumi
yang harus berjalan meski roda keras menghantam kerikil
dan yang harus bersyukur ketika berjalan di aspal yang mulus

aku terus mengalir
layaknya air mengaliri sungai dari hilir
yang selalu melewati batu untuk mengikisnya
tapi, pada akhirnya
aku akan berhasil melewatinya
dan menuju laut lepas yang tak terbatas


jakarta, 22 Agustus 2009
*G

Selasa, 25 Agustus 2009

"Keteguhan Lelaki"

lampu - lampu di pinggir jalan redup tak menerangi
seorang lelaki terdiam dan termenung di bawahnya
membayangkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya
kepada kekasih hati, kepada cinta yang telah di damba

kuda besi berlarian, macan-macan impor saling membalap
siluet cahaya dari mata mereka menerangi gelapnya jalanan
egoistis para penunggang macan dan kuda besi saling mendahului
tak mengerti akan kebimbangan sang lelaki

para sesepuh dan orangtua saling mendesak akan egonya
menunjuk calon mempelai layaknya zaman siti nurbaya
padahal sang lelaki tak tertarik akan wanita yang ditunjuk
tetap mencintai kekasih dambaan hatinya

tak terasa, air mata mengaliri pipinya yang kusam
isak tangis yang tak terbendung meledak dengan buas
keretakan hati yang tak dapat di tambal meski dengan lem bermerek internasional
bimbang, takut akan jalan yang akan di pilih

hai lelaki, tunjukkan pada mereka bahwa kau seorang pria
yang dapat memilih dan menjalani semua yang kau mau
berfikir dengan logika yang kau resapi
berjalan dengan naluri yang kau inginkan
berbicara dengan hati yang telah kau jaga
bersandar dengan apa yang telah kau pedomankan

lampu - lampu di pinggir jalan semakin redup dan semakin gelap
lelaki itu masih terdiam tak bergeming di bawahnya
tetapi, sekarang dia memikirkan untuk berusaha berontak
berontak dari jeruji besi yang telah mengurungnya
dengan cara halus, tak bersuara
tak berbekas. tak menimbulkan sakit

kuda besi dan macan impor sudah sepi
malam telah larut, siluet cahaya tak lagi dapat menerangi jalan
sang lelaki segera bergegas bersiap untuk mengungkapkan semua
kepada sesepuh, orangtua serta kepada kekasih dambaan hati

Jakarta, 16 Agustus 2009
*G

"Ketika Manusia Berpikir"

tatkala semua telah habis
tatkala semua telah menghilang tanpa jejak
tatkala semua telah hancur lebur
tatkala semua telah ditarik kembali kepada-NYA
tatkala kita hanyalah aktor yang bermain sandiwara

tatkala tak ada lagi manusia yang sadar
tatkala tak ada lagi burung-burung yang berterbangan
tatkala tak ada lagi matahari yang senantiasa menyinari
tatkala tak ada lagi bulan yang menerangi malam hari
tatkala kamu mengerti akan kehendak-NYA yang tak dapat di ganggu gugat

tatkala mulut tak bisa bersuara
tatkala lidah tak mengecap rasa
tatkala kulit tak merasakan panas dingin
tatkala mata tak dapat melihat warna kelabu dunia
tatkala kamu sadar dan membayangkan pasti akan pergi meninggalkan semua

tatkala harga-harga diri tak lagi berarti
tatkala popularitas tak lagi bernilai
tatkala semua harapan telah tenggelam
tatkala bumi tak lagi berotasi
tatkala kamu berharap dan bertanya, siapakah Tuhanku ?

tatkala bintang tak lagi menari melainkan berak di atasmu
tatkala awan-awan tak lagi menaungi melainkan kencing di atasmu
tatkala tata surya tak lagi di orbitnya melainkan mencoba mengejarmu
tatkala seluruh jagad raya tak lagi bersatu melainkan meludahi mu
tatkala kamu bisa mengakui bahwa semua hanyalah ilusi yang fana

tatkala kamu hanya dapat berandai
tatkala kamu tak dapat lagi berusaha
tatkala kamu hanya dapat ber-angan
tatkala kamu tak dapat lagi merasakan indahnya mencapai tujuan
tatkala kamu hilang. dan Enyah dari hadapanku

Jakarta, 16 Agustus 2009
*G

"Sia - Sia"

semua hal yang telah di lakukan, semua hal menjadi sia-sia

kebahagiaan yang telah di raih, hanya menyambut kesedihan
senyuman yang telah di kembangkan, hanya memancing derasnya kucuran airmata
kekayaan yang telah di dapatkan, semua hanya membangun kesombongan
kemiskinan yang telah di derita, hanya menjadi jurang pemisah
cinta yang telah di rasakan, hanya memicu rasa dendam
ketampanan dan kecantikan yang di miliki, hanya menjahit keburukan dalam hati
persahabatan yang telah terjalin, hanya membakar obor permusuhan

kapankah semua hal di dunia ini dapat terlihat nyata ?
ketika beribu-ribu nikmat datang, mengapa berjuta-juta derita tiba menghampiri ?
apakah semua ini dapat di jelaskan oleh ilmu fisika dan matematika ?
apakah semua ini dapat kita pahami jika membaca susunan paradigma biologi ?
mengapa ?

adakah seseorang yang bersembunyi dalam kegelapan dapat kembali merasakan cahaya ?
ketika semua api telah dipadamkan, disaat matahari tertutup gerhana selamanya
ketika semua listrik telah terputus, disaat bulan tak mendapatkan pantulan pelita
maka aku sadar, hanya Tuhan yang mengetahui jawaban dari semua pertanyaan

*G

"Semua Sama"

ah, semua tak ada yang berbeda,
ketika semua mata tertuju pada sebuah kepingan emas kecil
dan ketika semua orang tak sadar mereka telah berada di atas ambang kepuasan
semuanya sama, tak ada yang dapat membedakan
ketika semua tangan mencoba meraih elegannya sebuah piala kepalsuan
dan ketika semua keinginan busuk berkompetisi mecapai impian masing masing
tak ada yang mencoba berubah, semuanya sama
ketika semua manusia menertawakan kesalahan orang lain
dan ketika semua manusia mempermasalahkan kejahatan kecil

ketika kekosongan yang hampa sampai berdebu dan sampai laba-laba membuat sarang di atasnya
semua manusia tetap sama dan selalu berputar dalam rotasi bumi yang membosankan
berdiripun telah lelah, takkan ada yang pernah mencoba menggugat
hanya kepalsuan yang dapat tegak menopang angin yang menerpa
hanya kebohongan yang telah tertanam dalam kedustaan yang hina

kefanaan yang terasa hanya bergerak dalam satu arah mata angin
hingga tak terasa, telah mematahkan kaki-kaki yang mencoba bertahan menghadapi cobaan
dan telah menghancurkan mimpi-mimpi seorang anak yang baru menghadapi kerasnya dunia
keheningan mengacaukan pikiran, hingga sepi merusak keramaian

*G