aku adalah aku
inilah aku yang telah kau kenal
inilah aku yang telah kau temui
inilah aku apa adanya yang telah menyakitimu
aku adalah aku
beginilah sifatku
keras, egois, menyebalkan
aku tak butuh kau mengerti, aku hanya ingin kau tau
inilah aku apa adanya yang telah menghancurkanmu
aku bukanlah manusia yang sempurna
aku juga bukan seseorang yang patut kau puja
aku bukan aksara yang kau inginkan
aku hanya sesuatu yang diam. dingin. menghancurkan.
aku bukan Tuhan yang telah menciptakan segalanya
aku tak mengerti ilmu matematika
aku tak suka ilmu fisika yang pasti
aku hanya menganalisis apa yang terjadi
tapi, aku tak tau apa yang akan kamu telan
aku bukan dukun. paranormal.
yang tau akan kejadian setelah ini
aku akan berbicara lantang
jika aku benar dan menurutku yang kau lakukan salah
namun, aku akan diam membisu
jika aku salah dan kau telah melakukan yang benar
inilah hidupku
berjalan diatas roda yang telah berputar sesuai laju
yang telah diatur untuk hancur ditelan bumi
yang harus berjalan meski roda keras menghantam kerikil
dan yang harus bersyukur ketika berjalan di aspal yang mulus
aku terus mengalir
layaknya air mengaliri sungai dari hilir
yang selalu melewati batu untuk mengikisnya
tapi, pada akhirnya
aku akan berhasil melewatinya
dan menuju laut lepas yang tak terbatas
jakarta, 22 Agustus 2009
*G
Kamis, 27 Agustus 2009
Selasa, 25 Agustus 2009
"Keteguhan Lelaki"
lampu - lampu di pinggir jalan redup tak menerangi
seorang lelaki terdiam dan termenung di bawahnya
membayangkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya
kepada kekasih hati, kepada cinta yang telah di damba
kuda besi berlarian, macan-macan impor saling membalap
siluet cahaya dari mata mereka menerangi gelapnya jalanan
egoistis para penunggang macan dan kuda besi saling mendahului
tak mengerti akan kebimbangan sang lelaki
para sesepuh dan orangtua saling mendesak akan egonya
menunjuk calon mempelai layaknya zaman siti nurbaya
padahal sang lelaki tak tertarik akan wanita yang ditunjuk
tetap mencintai kekasih dambaan hatinya
tak terasa, air mata mengaliri pipinya yang kusam
isak tangis yang tak terbendung meledak dengan buas
keretakan hati yang tak dapat di tambal meski dengan lem bermerek internasional
bimbang, takut akan jalan yang akan di pilih
hai lelaki, tunjukkan pada mereka bahwa kau seorang pria
yang dapat memilih dan menjalani semua yang kau mau
berfikir dengan logika yang kau resapi
berjalan dengan naluri yang kau inginkan
berbicara dengan hati yang telah kau jaga
bersandar dengan apa yang telah kau pedomankan
lampu - lampu di pinggir jalan semakin redup dan semakin gelap
lelaki itu masih terdiam tak bergeming di bawahnya
tetapi, sekarang dia memikirkan untuk berusaha berontak
berontak dari jeruji besi yang telah mengurungnya
dengan cara halus, tak bersuara
tak berbekas. tak menimbulkan sakit
kuda besi dan macan impor sudah sepi
malam telah larut, siluet cahaya tak lagi dapat menerangi jalan
sang lelaki segera bergegas bersiap untuk mengungkapkan semua
kepada sesepuh, orangtua serta kepada kekasih dambaan hati
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
seorang lelaki terdiam dan termenung di bawahnya
membayangkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya
kepada kekasih hati, kepada cinta yang telah di damba
kuda besi berlarian, macan-macan impor saling membalap
siluet cahaya dari mata mereka menerangi gelapnya jalanan
egoistis para penunggang macan dan kuda besi saling mendahului
tak mengerti akan kebimbangan sang lelaki
para sesepuh dan orangtua saling mendesak akan egonya
menunjuk calon mempelai layaknya zaman siti nurbaya
padahal sang lelaki tak tertarik akan wanita yang ditunjuk
tetap mencintai kekasih dambaan hatinya
tak terasa, air mata mengaliri pipinya yang kusam
isak tangis yang tak terbendung meledak dengan buas
keretakan hati yang tak dapat di tambal meski dengan lem bermerek internasional
bimbang, takut akan jalan yang akan di pilih
hai lelaki, tunjukkan pada mereka bahwa kau seorang pria
yang dapat memilih dan menjalani semua yang kau mau
berfikir dengan logika yang kau resapi
berjalan dengan naluri yang kau inginkan
berbicara dengan hati yang telah kau jaga
bersandar dengan apa yang telah kau pedomankan
lampu - lampu di pinggir jalan semakin redup dan semakin gelap
lelaki itu masih terdiam tak bergeming di bawahnya
tetapi, sekarang dia memikirkan untuk berusaha berontak
berontak dari jeruji besi yang telah mengurungnya
dengan cara halus, tak bersuara
tak berbekas. tak menimbulkan sakit
kuda besi dan macan impor sudah sepi
malam telah larut, siluet cahaya tak lagi dapat menerangi jalan
sang lelaki segera bergegas bersiap untuk mengungkapkan semua
kepada sesepuh, orangtua serta kepada kekasih dambaan hati
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
"Ketika Manusia Berpikir"
tatkala semua telah habis
tatkala semua telah menghilang tanpa jejak
tatkala semua telah hancur lebur
tatkala semua telah ditarik kembali kepada-NYA
tatkala kita hanyalah aktor yang bermain sandiwara
tatkala tak ada lagi manusia yang sadar
tatkala tak ada lagi burung-burung yang berterbangan
tatkala tak ada lagi matahari yang senantiasa menyinari
tatkala tak ada lagi bulan yang menerangi malam hari
tatkala kamu mengerti akan kehendak-NYA yang tak dapat di ganggu gugat
tatkala mulut tak bisa bersuara
tatkala lidah tak mengecap rasa
tatkala kulit tak merasakan panas dingin
tatkala mata tak dapat melihat warna kelabu dunia
tatkala kamu sadar dan membayangkan pasti akan pergi meninggalkan semua
tatkala harga-harga diri tak lagi berarti
tatkala popularitas tak lagi bernilai
tatkala semua harapan telah tenggelam
tatkala bumi tak lagi berotasi
tatkala kamu berharap dan bertanya, siapakah Tuhanku ?
tatkala bintang tak lagi menari melainkan berak di atasmu
tatkala awan-awan tak lagi menaungi melainkan kencing di atasmu
tatkala tata surya tak lagi di orbitnya melainkan mencoba mengejarmu
tatkala seluruh jagad raya tak lagi bersatu melainkan meludahi mu
tatkala kamu bisa mengakui bahwa semua hanyalah ilusi yang fana
tatkala kamu hanya dapat berandai
tatkala kamu tak dapat lagi berusaha
tatkala kamu hanya dapat ber-angan
tatkala kamu tak dapat lagi merasakan indahnya mencapai tujuan
tatkala kamu hilang. dan Enyah dari hadapanku
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
tatkala semua telah menghilang tanpa jejak
tatkala semua telah hancur lebur
tatkala semua telah ditarik kembali kepada-NYA
tatkala kita hanyalah aktor yang bermain sandiwara
tatkala tak ada lagi manusia yang sadar
tatkala tak ada lagi burung-burung yang berterbangan
tatkala tak ada lagi matahari yang senantiasa menyinari
tatkala tak ada lagi bulan yang menerangi malam hari
tatkala kamu mengerti akan kehendak-NYA yang tak dapat di ganggu gugat
tatkala mulut tak bisa bersuara
tatkala lidah tak mengecap rasa
tatkala kulit tak merasakan panas dingin
tatkala mata tak dapat melihat warna kelabu dunia
tatkala kamu sadar dan membayangkan pasti akan pergi meninggalkan semua
tatkala harga-harga diri tak lagi berarti
tatkala popularitas tak lagi bernilai
tatkala semua harapan telah tenggelam
tatkala bumi tak lagi berotasi
tatkala kamu berharap dan bertanya, siapakah Tuhanku ?
tatkala bintang tak lagi menari melainkan berak di atasmu
tatkala awan-awan tak lagi menaungi melainkan kencing di atasmu
tatkala tata surya tak lagi di orbitnya melainkan mencoba mengejarmu
tatkala seluruh jagad raya tak lagi bersatu melainkan meludahi mu
tatkala kamu bisa mengakui bahwa semua hanyalah ilusi yang fana
tatkala kamu hanya dapat berandai
tatkala kamu tak dapat lagi berusaha
tatkala kamu hanya dapat ber-angan
tatkala kamu tak dapat lagi merasakan indahnya mencapai tujuan
tatkala kamu hilang. dan Enyah dari hadapanku
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
"Sia - Sia"
semua hal yang telah di lakukan, semua hal menjadi sia-sia
kebahagiaan yang telah di raih, hanya menyambut kesedihan
senyuman yang telah di kembangkan, hanya memancing derasnya kucuran airmata
kekayaan yang telah di dapatkan, semua hanya membangun kesombongan
kemiskinan yang telah di derita, hanya menjadi jurang pemisah
cinta yang telah di rasakan, hanya memicu rasa dendam
ketampanan dan kecantikan yang di miliki, hanya menjahit keburukan dalam hati
persahabatan yang telah terjalin, hanya membakar obor permusuhan
kapankah semua hal di dunia ini dapat terlihat nyata ?
ketika beribu-ribu nikmat datang, mengapa berjuta-juta derita tiba menghampiri ?
apakah semua ini dapat di jelaskan oleh ilmu fisika dan matematika ?
apakah semua ini dapat kita pahami jika membaca susunan paradigma biologi ?
mengapa ?
adakah seseorang yang bersembunyi dalam kegelapan dapat kembali merasakan cahaya ?
ketika semua api telah dipadamkan, disaat matahari tertutup gerhana selamanya
ketika semua listrik telah terputus, disaat bulan tak mendapatkan pantulan pelita
maka aku sadar, hanya Tuhan yang mengetahui jawaban dari semua pertanyaan
*G
kebahagiaan yang telah di raih, hanya menyambut kesedihan
senyuman yang telah di kembangkan, hanya memancing derasnya kucuran airmata
kekayaan yang telah di dapatkan, semua hanya membangun kesombongan
kemiskinan yang telah di derita, hanya menjadi jurang pemisah
cinta yang telah di rasakan, hanya memicu rasa dendam
ketampanan dan kecantikan yang di miliki, hanya menjahit keburukan dalam hati
persahabatan yang telah terjalin, hanya membakar obor permusuhan
kapankah semua hal di dunia ini dapat terlihat nyata ?
ketika beribu-ribu nikmat datang, mengapa berjuta-juta derita tiba menghampiri ?
apakah semua ini dapat di jelaskan oleh ilmu fisika dan matematika ?
apakah semua ini dapat kita pahami jika membaca susunan paradigma biologi ?
mengapa ?
adakah seseorang yang bersembunyi dalam kegelapan dapat kembali merasakan cahaya ?
ketika semua api telah dipadamkan, disaat matahari tertutup gerhana selamanya
ketika semua listrik telah terputus, disaat bulan tak mendapatkan pantulan pelita
maka aku sadar, hanya Tuhan yang mengetahui jawaban dari semua pertanyaan
*G
"Semua Sama"
ah, semua tak ada yang berbeda,
ketika semua mata tertuju pada sebuah kepingan emas kecil
dan ketika semua orang tak sadar mereka telah berada di atas ambang kepuasan
semuanya sama, tak ada yang dapat membedakan
ketika semua tangan mencoba meraih elegannya sebuah piala kepalsuan
dan ketika semua keinginan busuk berkompetisi mecapai impian masing masing
tak ada yang mencoba berubah, semuanya sama
ketika semua manusia menertawakan kesalahan orang lain
dan ketika semua manusia mempermasalahkan kejahatan kecil
ketika kekosongan yang hampa sampai berdebu dan sampai laba-laba membuat sarang di atasnya
semua manusia tetap sama dan selalu berputar dalam rotasi bumi yang membosankan
berdiripun telah lelah, takkan ada yang pernah mencoba menggugat
hanya kepalsuan yang dapat tegak menopang angin yang menerpa
hanya kebohongan yang telah tertanam dalam kedustaan yang hina
kefanaan yang terasa hanya bergerak dalam satu arah mata angin
hingga tak terasa, telah mematahkan kaki-kaki yang mencoba bertahan menghadapi cobaan
dan telah menghancurkan mimpi-mimpi seorang anak yang baru menghadapi kerasnya dunia
keheningan mengacaukan pikiran, hingga sepi merusak keramaian
*G
ketika semua mata tertuju pada sebuah kepingan emas kecil
dan ketika semua orang tak sadar mereka telah berada di atas ambang kepuasan
semuanya sama, tak ada yang dapat membedakan
ketika semua tangan mencoba meraih elegannya sebuah piala kepalsuan
dan ketika semua keinginan busuk berkompetisi mecapai impian masing masing
tak ada yang mencoba berubah, semuanya sama
ketika semua manusia menertawakan kesalahan orang lain
dan ketika semua manusia mempermasalahkan kejahatan kecil
ketika kekosongan yang hampa sampai berdebu dan sampai laba-laba membuat sarang di atasnya
semua manusia tetap sama dan selalu berputar dalam rotasi bumi yang membosankan
berdiripun telah lelah, takkan ada yang pernah mencoba menggugat
hanya kepalsuan yang dapat tegak menopang angin yang menerpa
hanya kebohongan yang telah tertanam dalam kedustaan yang hina
kefanaan yang terasa hanya bergerak dalam satu arah mata angin
hingga tak terasa, telah mematahkan kaki-kaki yang mencoba bertahan menghadapi cobaan
dan telah menghancurkan mimpi-mimpi seorang anak yang baru menghadapi kerasnya dunia
keheningan mengacaukan pikiran, hingga sepi merusak keramaian
*G
Langganan:
Postingan (Atom)
