lampu - lampu di pinggir jalan redup tak menerangi
seorang lelaki terdiam dan termenung di bawahnya
membayangkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya
kepada kekasih hati, kepada cinta yang telah di damba
kuda besi berlarian, macan-macan impor saling membalap
siluet cahaya dari mata mereka menerangi gelapnya jalanan
egoistis para penunggang macan dan kuda besi saling mendahului
tak mengerti akan kebimbangan sang lelaki
para sesepuh dan orangtua saling mendesak akan egonya
menunjuk calon mempelai layaknya zaman siti nurbaya
padahal sang lelaki tak tertarik akan wanita yang ditunjuk
tetap mencintai kekasih dambaan hatinya
tak terasa, air mata mengaliri pipinya yang kusam
isak tangis yang tak terbendung meledak dengan buas
keretakan hati yang tak dapat di tambal meski dengan lem bermerek internasional
bimbang, takut akan jalan yang akan di pilih
hai lelaki, tunjukkan pada mereka bahwa kau seorang pria
yang dapat memilih dan menjalani semua yang kau mau
berfikir dengan logika yang kau resapi
berjalan dengan naluri yang kau inginkan
berbicara dengan hati yang telah kau jaga
bersandar dengan apa yang telah kau pedomankan
lampu - lampu di pinggir jalan semakin redup dan semakin gelap
lelaki itu masih terdiam tak bergeming di bawahnya
tetapi, sekarang dia memikirkan untuk berusaha berontak
berontak dari jeruji besi yang telah mengurungnya
dengan cara halus, tak bersuara
tak berbekas. tak menimbulkan sakit
kuda besi dan macan impor sudah sepi
malam telah larut, siluet cahaya tak lagi dapat menerangi jalan
sang lelaki segera bergegas bersiap untuk mengungkapkan semua
kepada sesepuh, orangtua serta kepada kekasih dambaan hati
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G
seorang lelaki terdiam dan termenung di bawahnya
membayangkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya
kepada kekasih hati, kepada cinta yang telah di damba
kuda besi berlarian, macan-macan impor saling membalap
siluet cahaya dari mata mereka menerangi gelapnya jalanan
egoistis para penunggang macan dan kuda besi saling mendahului
tak mengerti akan kebimbangan sang lelaki
para sesepuh dan orangtua saling mendesak akan egonya
menunjuk calon mempelai layaknya zaman siti nurbaya
padahal sang lelaki tak tertarik akan wanita yang ditunjuk
tetap mencintai kekasih dambaan hatinya
tak terasa, air mata mengaliri pipinya yang kusam
isak tangis yang tak terbendung meledak dengan buas
keretakan hati yang tak dapat di tambal meski dengan lem bermerek internasional
bimbang, takut akan jalan yang akan di pilih
hai lelaki, tunjukkan pada mereka bahwa kau seorang pria
yang dapat memilih dan menjalani semua yang kau mau
berfikir dengan logika yang kau resapi
berjalan dengan naluri yang kau inginkan
berbicara dengan hati yang telah kau jaga
bersandar dengan apa yang telah kau pedomankan
lampu - lampu di pinggir jalan semakin redup dan semakin gelap
lelaki itu masih terdiam tak bergeming di bawahnya
tetapi, sekarang dia memikirkan untuk berusaha berontak
berontak dari jeruji besi yang telah mengurungnya
dengan cara halus, tak bersuara
tak berbekas. tak menimbulkan sakit
kuda besi dan macan impor sudah sepi
malam telah larut, siluet cahaya tak lagi dapat menerangi jalan
sang lelaki segera bergegas bersiap untuk mengungkapkan semua
kepada sesepuh, orangtua serta kepada kekasih dambaan hati
Jakarta, 16 Agustus 2009
*G

Tidak ada komentar:
Posting Komentar