Selasa, 25 Agustus 2009

"Ketika Manusia Berpikir"

tatkala semua telah habis
tatkala semua telah menghilang tanpa jejak
tatkala semua telah hancur lebur
tatkala semua telah ditarik kembali kepada-NYA
tatkala kita hanyalah aktor yang bermain sandiwara

tatkala tak ada lagi manusia yang sadar
tatkala tak ada lagi burung-burung yang berterbangan
tatkala tak ada lagi matahari yang senantiasa menyinari
tatkala tak ada lagi bulan yang menerangi malam hari
tatkala kamu mengerti akan kehendak-NYA yang tak dapat di ganggu gugat

tatkala mulut tak bisa bersuara
tatkala lidah tak mengecap rasa
tatkala kulit tak merasakan panas dingin
tatkala mata tak dapat melihat warna kelabu dunia
tatkala kamu sadar dan membayangkan pasti akan pergi meninggalkan semua

tatkala harga-harga diri tak lagi berarti
tatkala popularitas tak lagi bernilai
tatkala semua harapan telah tenggelam
tatkala bumi tak lagi berotasi
tatkala kamu berharap dan bertanya, siapakah Tuhanku ?

tatkala bintang tak lagi menari melainkan berak di atasmu
tatkala awan-awan tak lagi menaungi melainkan kencing di atasmu
tatkala tata surya tak lagi di orbitnya melainkan mencoba mengejarmu
tatkala seluruh jagad raya tak lagi bersatu melainkan meludahi mu
tatkala kamu bisa mengakui bahwa semua hanyalah ilusi yang fana

tatkala kamu hanya dapat berandai
tatkala kamu tak dapat lagi berusaha
tatkala kamu hanya dapat ber-angan
tatkala kamu tak dapat lagi merasakan indahnya mencapai tujuan
tatkala kamu hilang. dan Enyah dari hadapanku

Jakarta, 16 Agustus 2009
*G

2 komentar:

  1. Asli! dari 3 puisi loh (yg gw baca)
    yang ini paling keren!!!!

    ko endingnya gitu sih.. "enyah dari hadapanku"
    jahat banget. kirain mencerminkan orang yang putus asa. tapi ternyata ini curhatan lo buat ngusir seseorang yang gak seharusnya ada di hadapan loe ya?!

    BalasHapus
  2. haha, ya kurang lebih seperti itulah
    makasih ya kalo suka :)

    BalasHapus